Ilmu kedokteran modern menjelaskan fenomena mimpi buruk dan kelumpuhan tidur dari sudut pandang saraf kranial yang lebih spesifik. Pengalaman mengerikan dan menakutkan yang Anda rasakan merupakan hasil gabungan dari kekacauan 'tahapan tidur' dan 'malafungsi otak'. Secara medis, kelumpuhan tidur disebut sebagai 'kelumpuhan tidur'. Kondisi ini merujuk pada ketidakmampuan menggerakkan tubuh saat baru bangun tidur atau tepat sebelum terlelap, disertai halusinasi atau sensasi tertindih. Sangat menakutkan, bukan?
Otak kita melewati beberapa tahapan saat tertidur, dan tahapan tempat terjadinya mimpi adalah 'tidur REM'. Pada tahap tidur REM ini, aktivitas otak meningkat pesat hingga hampir menyerupai saat terjaga, namun otak melumpuhkan gerakan otot untuk sementara agar tubuh tidak bergerak, suatu kondisi yang disebut 'atonia tidur REM'. Hal ini dapat dikatakan sebagai semacam 'alat pengaman' agar kita tidak benar-benar menggerakkan tubuh dan terluka saat berlari atau berkelahi di dalam mimpi.
Namun, kelumpuhan tidur terjadi ketika 'alat pengaman' ini tidak terlepas dengan benar atau mengalami gangguan fungsi dalam proses transisi bangun atau memasuki tidur REM. Otak sudah terbangun dan mulai beraktivitas, namun kelumpuhan otot tubuh masih terus berlangsung. Pada saat ini, otak yang telah sadar mengenali situasi yang membingungkan tersebut sehingga mengaburkan batas antara kenyataan dan mimpi. Akibatnya, meskipun mata terbuka, seseorang dapat mengalami halusinasi menyeramkan seolah melihat hantu atau merasakan seseorang berada di sampingnya, serta merasakan tekanan berat seperti dada yang terhimpit. Rasa tubuh yang menjadi seberat timah hitam tentu pernah dirasakan oleh sebagian orang.
Lantas, mengapa 'malafungsi' ini bisa terjadi? 'Sistem saraf otonom' dan 'hormon stres' terlibat sangat mendalam di sini. Ketika stres melanda dengan hebat atau kelelahan menumpuk, keseimbangan sistem saraf otonom tubuh kita mudah terganggu. Sistem saraf otonom terbagi menjadi saraf simpatik dan saraf parasimpatik; saraf simpatik menegangkan tubuh untuk bersiap menghadapi 'situasi darurat', sedangkan saraf parasimpatik bertugas dalam 'istirahat dan pemulihan'. Saat mengalami banyak stres, saraf simpatik teraktivasi secara berlebihan, dan meskipun malam telah tiba serta tubuh berbaring di tempat tidur, tubuh dan pikiran tidak dapat relaks dengan cukup sehingga kualitas tidur menurun. Akibatnya, seseorang mengalami tidur yang dangkal atau tahapan tidur REM menjadi tidak stabil, yang meningkatkan kemungkinan sering bermimpi buruk atau mengalami kelumpuhan tidur.
Selain itu, kurang tidur, pola tidur yang tidak teratur, konsumsi kafein atau alkohol yang berlebihan, konsumsi obat tertentu, serta masalah kesehatan mental seperti kecemasan psikologis atau depresi juga dapat mengganggu kemampuan otak dalam mengatur tidur, sehingga memicu mimpi buruk atau kelumpuhan tidur. Donguibogam menjelaskan ketidakstabilan pikiran dan penumpukan stres ini sebagai 'defisiensi kantung empedu' dan 'stagnasi qi hati', yang dalam kedokteran modern dipandang sebagai ketidakseimbangan sistem saraf otonom dan disregulasi tidur REM. Pada akhirnya, kearifan masa lalu dan sains modern sama-sama menunjuk ke arah yang serupa, yakni bahwa fenomena ini merupakan lampu peringatan yang dikirimkan oleh tubuh dan pikiran satu sama lain.