Rasa haus dan xerostomia yang tidak kunjung reda meski sudah minum air tentu sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Lebih dari sekadar keluhan haus biasa, lidah bisa terasa perih, rasa makanan tidak terasa dengan baik, bahkan kekhawatiran akan bau mulut dapat mengganggu kehidupan sosial. Saat berdiskusi dengan pasien di ruang konsultasi, banyak yang menyampaikan keluhan serupa, 'Dokter, saya merasa tidak memiliki penyakit khusus, mungkinkah ini karena obat yang saya konsumsi?' Jawabannya adalah ya, benar. Dalam dunia kedokteran modern, xerostomia yang dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu cukup sering dilaporkan. Faktanya, diketahui ada lebih dari 400 jenis obat yang dapat memicu xerostomia.
Lalu, obat apa sajakah yang mengurangi kelembapan di dalam rongga mulut? Penyebab paling representatif adalah obat-obatan yang memiliki efek antikolinergik. Kelenjar ludah di tubuh kita distimulasi oleh neurotransmiter bernama asetilkolin untuk menyekresi air liur, dan obat-obatan berefek antikolinergik menghalangi reseptor asetilkolin sehingga menekan fungsi kelenjar ludah. Proses ini mengurangi produksi air liur, persis seperti menutup keran air. Antihistamin generasi pertama yang sering digunakan untuk alergi seperti difenhidramin, antidepresan trisiklik yang diresepkan untuk depresi atau kecemasan seperti amitriptilin, serta beberapa penghambat pengambilan kembali serotonin selektif memiliki mekanisme kerja seperti ini. Obat penyakit Parkinson, beberapa antipsikotik, dan relaksan otot juga dapat menyebabkan xerostomia melalui efek antikolinergik.
Penyebab penting lainnya adalah diuretik. Diuretik yang digunakan untuk berbagai kondisi seperti hipertensi atau gagal jantung bekerja mempercepat pembuangan air dan natrium di ginjal, sehingga mengurangi volume cairan tubuh secara menyeluruh. Akibatnya, pasokan cairan ke kelenjar ludah berkurang dan memicu timbulnya xerostomia. Di antara golongan antihipertensi, penghambat beta atau penghambat ACE juga jarang dapat menyebabkan xerostomia. Selain itu, jenis obat antikanker tertentu, sedatif, obat hipnotik, dan anoreksian dapat memengaruhi fungsi kelenjar ludah secara langsung maupun tidak langsung sehingga menimbulkan xerostomia.
Xerostomia akibat obat bukan hanya sekadar rasa tidak nyaman, tetapi dapat berdampak serius pada kesehatan rongga mulut. Air liur berfungsi penting untuk membersihkan rongga mulut, menyingkirkan sisa makanan, serta menyediakan mineral seperti fluor dan kalsium yang melindungi gigi. Kekurangan air liur secara drastis meningkatkan risiko karies gigi, meningkatkan kerentanan terhadap peradangan gusi dan infeksi seperti kandidiasis oral, serta menimbulkan kesulitan menelan makanan atau ketidaknyamanan saat berbicara, yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Jika Anda mencurigai kondisi ini berasal dari obat yang sedang dikonsumsi, jangan pernah menghentikan konsumsi obat secara mandiri. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, apoteker, atau tenaga medis profesional untuk mengevaluasi penyesuaian obat atau mencari cara meredakan gejalanya bersama-sama.