Kedokteran modern menjelaskan fenomena ini melalui ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom tubuh kita terbagi menjadi saraf simpatik dan saraf parasimpatik. Saraf simpatik berfungsi menyiapkan tubuh dalam kondisi 'bertarung atau lari' saat menghadapi bahaya. Sistem ini membuat jantung berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, dan menegangkan otot. Masalahnya, ketika saraf simpatik teraktivasi, aktivitas kelenjar ludah akan ditekan. Xerostomia dengan keluhan mulut terasa sangat kering merupakan salah satu gejala utama yang muncul ketika saraf simpatik mengalami hiperaktivasi berlebih dalam situasi stres.
Kelenjar ludah kita terutama dikendalikan oleh saraf parasimpatik, sehingga mengeluarkan air liur secara aktif saat berada dalam kondisi relaks. Namun, ketika saraf simpatik menjadi lebih dominan akibat stres, volume aliran darah menuju kelenjar ludah berkurang, komposisi air liur menjadi lebih kental, dan jumlahnya pun menurun. Ini bukan sekadar kekurangan cairan, melainkan respons stres yang memengaruhi fungsi kelenjar ludah secara langsung. Tidak hanya itu, stres kronis menyebabkan hiperaktivasi pada aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, yang merupakan poros respons stres di tubuh kita. Jika poros ini terus aktif, hormon stres bernama kortisol disekresikan secara berlebih. Kortisol memengaruhi seluruh tubuh dan semakin mengganggu keseimbangan sistem saraf otonom. Kadar kortisol yang tinggi juga memengaruhi sistem imun dan dapat memicu respons inflamasi kronis, yang pada akhirnya dapat kembali menurunkan fungsi kelenjar ludah.
Masalah kesehatan mental seperti kecemasan, ketegangan, dan serangan panik juga terhubung erat dengan xerostomia. Orang yang mengalami kecemasan atau serangan panik berada dalam situasi stres yang ekstrem, sehingga saraf simpatik terpicu lebih intens, dan hal ini dapat berlanjut menjadi xerostomia yang parah. Saat kesulitan bernapas dan jantung berdebar-debar, mulut yang ikut mengering melipatgandakan penderitaan yang dirasakan. Selain itu, xerostomia juga berdampak buruk pada kesehatan rongga mulut. Air liur berfungsi membersihkan rongga mulut, menyingkirkan sisa makanan, menetralkan asam, hingga memiliki fungsi antibakteri. Ketika air liur mengering, kondisi ini tidak hanya memicu karies gigi, penyakit gusi, dan bau mulut, tetapi juga membuat mukosa rongga mulut menjadi kering sehingga menciptakan lingkungan yang rentan terhadap radang. Hal ini dapat berujung pada lingkaran setan jika dibiarkan.
Ketidakseimbangan sistem saraf otonom seperti ini tidak hanya berdampak pada kelenjar ludah, melainkan juga memengaruhi seluruh organ tubuh seperti sistem pencernaan, sistem kardiovaskular, dan sistem endokrin. Dengan kata lain, xerostomia berfungsi sebagai sinyal peringatan penting yang memperlihatkan bagaimana stres sedang mengacaukan tubuh kita secara menyeluruh. Sebagaimana Donguibogam menjelaskan bahwa cairan tubuh adalah air kehidupan dan pelumas tubuh kita, kedokteran modern pun menekankan bahwa air liur bukan sekadar cairan, melainkan inti dari imunitas, pencernaan, dan kesehatan rongga mulut. Kita perlu merenungkan kembali betapa pentingnya mengelola stres dan memulihkan keseimbangan sistem saraf otonom, alih-alih sekadar minum banyak air.
Gaya hidup modern secara khusus membuat sistem saraf otonom semakin lelah. Kurang tidur, konsumsi kafein berlebih, pola makan tidak teratur, dan kelebihan beban informasi yang tak henti-hentinya merupakan faktor yang meningkatkan aktivitas saraf simpatik. Ini ibarat terus-menerus menekan pedal gas mobil. Pada akhirnya, saraf parasimpatik yang berperan sebagai rem kehilangan fungsinya dan mengalami kelelahan. Jika kondisi ini terus berlanjut, gejala yang timbul bukan hanya xerostomia, melainkan juga berbagai keluhan fisik seperti dispepsia, kelelahan kronis, sakit kepala, dan insomnia. Kita tidak boleh mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang dikirimkan oleh tubuh dan harus mendalami penyebab mendasarnya, karena setiap gejala kecil ini bisa jadi merupakan jeritan dari tubuh kita.