Keluhan rasa lemas meski makan banyak merupakan sinyal penting yang menunjukkan ketidakseimbangan nutrisi sistemik dan gangguan metabolisme, bukan sekadar masalah organ pencernaan biasa. Dalam kedokteran modern, kondisi ini dapat dipahami dalam spektrum 'malabsorpsi nutrisi'. Fungsi limpa dan lambung dalam Donguibogam dapat diinterpretasikan secara medis modern sebagai fungsi sistem pencernaan, khususnya kemampuan penyerapan nutrisi oleh usus halus dan usus besar, peran organ sekresi enzim pencernaan seperti hati dan pankreas, serta interaksi kompleks dari sistem saraf dan sistem endokrin yang mengaturnya.
Setelah makanan dikonsumsi, tubuh melakukan pencernaan awal di lambung, kemudian usus halus menyerap nutrisi utama seperti karbohidrat, protein, lemak, serta mikronutrien termasuk vitamin dan mineral. Pada saat ini, vili dan mikrovilus pada dinding usus halus memaksimalkan luas permukaan penyerapan untuk membantu proses penyerapan yang efisien. Namun, jika terjadi masalah pada proses penyerapan ini akibat berbagai penyebab, makanan tidak dapat diuraikan dengan baik, atau meskipun terurai, nutrisi tidak dapat menembus sawar usus untuk masuk ke dalam aliran darah. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan kalori dan nutrisi yang cukup, yang bermanifestasi sebagai gejala sistemik seperti kelelahan kronis, rasa lemas, penurunan berat badan, penurunan massa otot, hingga penurunan imunitas.
Penyebab medis modern dari malabsorpsi nutrisi sangat beragam. Pertama, kekurangan enzim pencernaan. Jika enzim yang menguraikan karbohidrat, protein, dan lemak tidak disekresi secara memadai akibat disfungsi pankreas seperti pankreatitis atau fibrosis kistik, proses pencernaan itu sendiri menjadi sulit. Kedua, kekurangan asam empedu. Asam empedu yang diproduksi di hati dan disimpan di kandung empedu sangat penting untuk pencernaan dan penyerapan lemak; sumbatan saluran empedu atau hipofungsi hati dapat menyebabkan malabsorpsi lemak. Ketiga, kerusakan mukosa usus halus. Penyakit radang usus seperti penyakit seliak karena intoleransi gluten, penyakit Crohn, dan kolitis ulseratif dapat merusak mukosa usus halus sehingga menurunkan laju penyerapan nutrisi. Selain itu, disbiosis usus berupa pertumbuhan bakteri berlebih pada usus halus, infeksi parasit, serta konsumsi obat-obatan tertentu seperti antibiotik dan antasida dapat merusak kesehatan mukosa usus dan memicu malabsorpsi. Keempat, penurunan sekresi asam lambung akibat operasi lambung atau gastritis atrofi juga memengaruhi penyerapan nutrisi tertentu, khususnya vitamin B12.
Hal yang patut mendapat perhatian khusus adalah ketidakseimbangan 'aksis usus-otak'. Organ pencernaan bukan sekadar organ penyerap nutrisi, melainkan memiliki sistem saraf enterik mandiri dan terus berkomunikasi dengan otak. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi dapat memengaruhi motilitas usus, sekresi enzim pencernaan, serta permeabilitas usus pada sindrom usus bocor secara langsung, sehingga menghambat penyerapan nutrisi. Sebaliknya, disbiosis usus memengaruhi produksi neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, yang berdampak buruk pada fungsi otak dan suasana hati. Masalah aksis usus-otak yang kompleks ini tidak hanya terkait dengan persoalan pola makan, melainkan terhubung dengan kesehatan tubuh dan pikiran secara keseluruhan. Defisiensi nutrisi berkepanjangan akibat malabsorpsi nutrisi dapat menyebabkan penurunan fungsi otak, penurunan kemampuan kognitif, dan kelelahan sistem saraf, sehingga menjerumuskan seseorang ke dalam lingkaran setan rasa lemas dan depresi yang lebih mendalam.
Oleh karena itu, jika gejala tetap lemas meski makan banyak terus berlanjut, jangan menganggapnya hanya karena kelelahan biasa. Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi guna mendapatkan diagnosis penyebab yang tepat dan melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kesehatan usus. Gejala ini merupakan tanda bahaya bagi kesehatan seluruh tubuh yang melampaui dispepsia biasa.