"Mengapa orang lain baik-baik saja tetapi perut saya selalu sakit setiap kali memakan ini?" Banyak orang tentu sering memikirkan hal ini. Cukup banyak orang menderita berbagai gejala pencernaan seperti nyeri perut, diare, konstipasi, dan gas berlebih meskipun tidak ditemukan kelainan khusus. Kondisi ini disebut sebagai sindrom iritasi usus besar. Kedokteran modern meneliti penyebab sindrom iritasi usus besar dari berbagai sudut pandang, dan salah satu konsep yang belakangan ini mendapat perhatian besar adalah FODMAP.
FODMAP adalah singkatan dari oligosakarida, disakarida, monosakarida, dan poliol yang dapat difermentasi, yaitu istilah umum untuk karbohidrat tertentu yang sulit diserap di usus dan mudah mengalami fermentasi. Kandungan ini banyak ditemukan pada sirup jagung tinggi fruktosa, tepung terigu, produk susu, serta buah dan sayuran tertentu. Komponen FODMAP ini tidak diserap sepenuhnya di usus halus dan turun ke usus besar, di mana komponen tersebut difermentasi dengan cepat oleh mikroorganisme di usus besar sehingga menghasilkan gas berlebih. Gas ini meregangkan sawar usus, yang kemudian memicu nyeri perut, rasa kembung, dan perasaan begah. Selain itu, FODMAP menimbulkan efek osmotik yang menarik cairan ke dalam usus sehingga dapat memicu diare.
Namun, FODMAP semata bukanlah keseluruhan masalah. Kedokteran modern menyoroti konsep sumbu usus-otak, yaitu hubungan erat yang terjalin antara usus dan otak. Usus kita memiliki begitu banyak sel saraf dan neurotransmiter hingga sering dijuluki sebagai otak kedua. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi dapat dikirimkan dari otak ke usus, yang kemudian dapat mengaktifkan motilitas usus secara berlebihan atau justru menghambatnya. Misalnya, hormon stres kortisol dapat meningkatkan permeabilitas usus sehingga memicu peradangan dan merusak keseimbangan mikrobiota usus. Saat permeabilitas sawar usus meningkat seperti ini, FODMAP yang belum tercerna dengan sempurna menjadi lebih mudah terpapar pada mukosa usus dan memberikan rangsangan iritasi.
Selain itu, disbiosis juga menjadi salah satu penyebab penting sindrom iritasi usus besar. Usus yang sehat memiliki keseimbangan yang tepat antara bakteri menguntungkan dan bakteri merugikan, tetapi penggunaan antibiotik tertentu, pola makan, atau stres dapat merusak keseimbangan ini sehingga bakteri merugikan mengalami proliferasi berlebih. Bakteri merugikan ini memfermentasi FODMAP dan menghasilkan gas berlebih serta toksisitas, yang kemudian mengiritasi mukosa usus, memicu respons inflamasi, dan meningkatkan sensitivitas usus. Artinya, makanan ber-FODMAP yang biasanya tidak bermasalah dapat menjadi faktor yang memberi stres berat pada usus dalam kondisi ketidakseimbangan tersebut.
Berdasarkan penelitian terkini, penderita sindrom iritasi usus besar memiliki ambang nyeri usus yang lebih rendah dibandingkan orang sehat, sehingga merasakan nyeri yang lebih kuat bahkan terhadap rangsangan kecil sekalipun. Inilah alasan mengapa produksi gas atau peningkatan cairan akibat konsumsi FODMAP dapat menjadi penderitaan yang sangat berat bagi pasien sindrom iritasi usus besar, meskipun tidak menjadi masalah besar bagi orang pada umumnya. Oleh karena itu, penanganan sindrom iritasi usus besar memerlukan pendekatan menyeluruh yang tidak hanya mencakup diet rendah FODMAP, tetapi juga manajemen stres, perbaikan lingkungan mikrobiota usus, serta peningkatan kebiasaan hidup secara umum demi kesehatan usus.