Saat tulang patah, tubuh kita langsung mengaktifkan sistem pemulihan dengan kecepatan luar biasa. Gumpalan darah yang disebut stasis darah dalam Donguibogam dapat dijelaskan sebagai hematoma dalam kedokteran modern. Darah menggenang di area fraktur dan pembuluh darah robek sehingga memicu respons peradangan, yang merupakan tahap awal paling penting dalam proses penyembuhan. Sel imun mulai membersihkan jaringan yang rusak dan melepaskan faktor pertumbuhan. Proses ini serupa dengan menyingkirkan serpihan mangkuk yang pecah sebelum bersiap membentuk wadah yang baru.
Setelah itu, selama beberapa minggu, kalus lunak mulai terbentuk. Pada proses ini, fibroblas dan kondroblas berkumpul di lokasi cedera untuk membentuk jaringan tulang rawan yang mulai menyambungkan serpihan tulang yang patah. Peran penting di sini dijalankan oleh berbagai faktor pertumbuhan seperti protein morfogenetik tulang. Senyawa ini mengatur aktivitas sel pembentuk tulang (osteoblas) dan sel penyerap tulang (osteoklas), sekaligus menyusun cetak biru regenerasi tulang. Protein ini mendeteksi sinyal lingkungan sekitar untuk memandu pemulihan tulang secara cermat.
Tahap selanjutnya adalah pembentukan kalus keras. Ini merupakan proses ketika kalus lunak berangsur-angsur berubah menjadi jaringan tulang yang keras, dengan pengendapan mineral seperti kalsium dan fosfat yang membuat tulang semakin padat. Pada tahap ini, hormon paratiroid, kalsitonin, dan vitamin D bekerja bersama untuk mengatur metabolisme kalsium. Khususnya vitamin D, nutrisi kunci ini membantu penyerapan kalsium dan mendukung pembentukan tulang. Pandangan Donguibogam bahwa esensi ginjal memperkokoh tulang sejalan dengan kedokteran modern yang melihat pentingnya peran ginjal dalam menjaga keseimbangan hormon, metabolisme mineral, serta metabolisme tubuh secara keseluruhan. Ginjal tidak hanya membuang zat sisa metabolisme, tetapi juga menjaga keseimbangan mineral sehingga secara tidak langsung memberi pengaruh besar terhadap kesehatan tulang.
Tahap terakhir adalah remodeling tulang. Ini adalah proses ketika tulang yang baru terbentuk ditata ulang ke bentuk optimal agar mampu menahan stimulus dan tekanan dari luar. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga tahunan, guna meningkatkan kepadatan serta kekuatan tulang agar dapat berfungsi seperti semula. Keseimbangan kerja antara osteoklas dan osteoblas tetap memegang peranan penting, begitu pula molekul imun seperti sitokin yang mengendalikan respons peradangan. Jika peradangan berlangsung terlalu lama atau respons imun tidak berjalan dengan baik, proses pemulihan bisa terhambat atau berkembang menjadi nyeri kronis.
Dengan demikian, pemulihan fraktur bukan sekadar menyatukan kembali tulang yang patah, melainkan hasil interaksi biokimia, seluler, dan hormonal yang rumit. Status nutrisi seperti protein, kalsium, dan vitamin C, D, K, sirkulasi darah untuk pasokan oksigen dan nutrisi, adanya penyakit kronis seperti diabetes dan osteoporosis, hingga tingkat stres, semuanya memengaruhi kecepatan dan kualitas pemulihan. Sebagaimana Donguibogam menekankan keselarasan qi dan darah di seluruh tubuh, kedokteran modern pun menunjukkan bahwa fraktur harus ditangani secara menyeluruh dari sudut pandang sistemik. Pemakaian gips saja tidak cukup untuk menjamin kesembuhan total; berbagai faktor di dalam dan di luar tubuh perlu diperhatikan secara bersamaan agar pemulihan tuntas tanpa menimbulkan sekuela.