Pasien yang saya hormati, menelaah kearifan Donguibogam melalui sudut pandang sains modern akan membuat kita kembali mengagumi keterkaitannya yang luar biasa. Pernyataan bahwa rambut sebagai ‘sisa darah’ dipengaruhi oleh tidur malam hari, bagaimana penjelasannya secara medis modern? Hal pertama yang terlintas adalah kortisol, sang ‘hormon stres’.
Ketika kita tidak tidur dengan cukup, tubuh berada dalam kondisi stres yang berat. Pada saat ini, kelenjar adrenal memproduksi hormon stres bernama kortisol secara berlebihan. Kortisol ini memicu respons inflamasi sistemik, menghambat sirkulasi darah, bahkan memicu kerusakan DNA pada sel folikel rambut. Kadar kortisol yang tinggi secara kronis mengganggu siklus pertumbuhan rambut, membuat rambut yang seharusnya berada pada ‘fase anagen’ berpindah lebih awal ke ‘fase telogen’. Inilah salah satu penyebab paling umum dari telogen efluvium. Jika setiap pagi terlihat banyak rambut di bantal atau rontok segenggam saat keramas, kelebihan sekresi kortisol akibat stres dan kurang tidur patut dicurigai.
Faktor penting lainnya adalah hormon pertumbuhan dan melatonin. Hormon pertumbuhan, yang paling banyak disekresikan saat tidur nyenyak, khususnya pada tahapan tidur non-REM, memainkan peran penting dalam perbaikan dan regenerasi seluruh sel tubuh kita. Tentu saja hormon ini memberikan pengaruh krusial terhadap pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan rambut. Kekurangan hormon pertumbuhan menyebabkan rambut menipis, mudah patah, dan pertumbuhannya melambat. Melatonin tidak hanya dikenal sebagai hormon penginduksi tidur, tetapi sebenarnya juga memiliki aktivitas antioksidan yang kuat untuk melindungi kulit kepala dan sel folikel rambut dari stres oksidatif. Jika melatonin tidak diproduksi secara cukup, sel folikel rambut menjadi rentan rusak, yang dapat berujung pada alopesia atau munculnya uban. Hormon ini bahkan diketahui dapat menstimulasi folikel rambut secara langsung untuk mendorong pertumbuhan rambut.
Dari sisi sirkulasi darah, tidur juga sangat penting. Selama tidur dengan nyaman di malam hari, sistem saraf parasimpatis dalam sistem saraf otonom mendominasi, sehingga pembuluh darah berelaksasi dan sirkulasi darah menjadi lancar. Pada saat ini, nutrisi dan oksigen yang cukup disuplai hingga ke kulit kepala sehingga folikel rambut dapat tetap sehat. Namun, jika tidur tidak nyenyak, saraf simpatik akan terus aktif sehingga pembuluh darah menyempit dan aliran darah mikrovaskular ke kulit kepala berkurang. Karena folikel rambut tidak menerima nutrisi dengan baik, rambut yang menipis dan melemah hanyalah masalah waktu. Penurunan imunitas pun menjadi masalah. Kurang tidur melemahkan sistem imun, memperburuk masalah seperti peradangan kulit kepala atau dermatitis seboroik, yang kemudian dapat memicu lingkaran setan timbulnya alopesia.
Pada akhirnya, tidur bukan sekadar istirahat, melainkan ‘tombol reset’ dan ‘pabrik regenerasi’ bagi tubuh kita. Konsep ‘pengisian darah’ dalam Donguibogam dijelaskan secara lebih terperinci dalam kedokteran modern sebagai ‘keseimbangan hormon, regenerasi sel, perbaikan sirkulasi darah, penguatan imunitas’, dan pesan intinya tetap tidak berubah. Kini terlihat betapa pentingnya tidur bagi kesehatan rambut, yang bukan sekadar masalah estetika melainkan masalah kesehatan seluruh tubuh. 😌