Pernahkah Anda mendengar istilah 'kelelahan mental'? Kelelahan mental dalam belajar adalah fenomena sangat penting yang dapat menjelaskan konsep 'penyakit konsumtif' dalam Donguibogam menggunakan bahasa sains modern. Otak adalah pusat kendali yang mengatur semua fungsi tubuh kita. Ketika berbagai faktor psikologis—seperti arus informasi yang tanpa henti, tekanan nilai ujian, kecemasan masa depan, dan kecenderungan perfeksionisme—memberikan stres berlebih, otak secara bertahap akan mengalami kelelahan. Ini mirip dengan komputer yang mengalami kelebihan beban karena menjalankan terlalu banyak program secara bersamaan.
Jika situasi stres ini berlangsung dalam jangka panjang, aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal yang mengatur respons stres tubuh kita akan terganggu. Hormon stres seperti kortisol terus disekresikan secara berlebihan dan memberikan dampak negatif pada fungsi otak. Secara khusus, kerusakan atau atrofi neuron dapat terjadi pada hipokampus, bagian yang bertanggung jawab atas pembelajaran dan memori, yang kemudian berujung pada penurunan konsentrasi, penurunan daya ingat, dan penurunan kemampuan menyerap informasi baru. Pengalaman merasa pikiran samar-samar berkabut dan isi buku tidak dapat masuk ke kepala meski sudah dibaca mungkin disebabkan oleh perubahan otak seperti ini.
Selain itu, stres kronis dan kurang tidur merusak keseimbangan neurotransmiter di otak. Ketika sekresi serotonin yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan serta dopamin yang berperan dalam motivasi dan penghargaan berkurang, perasaan depresi, rasa tidak berdaya, dan anhedonia dapat muncul. Inilah alasan mengapa belajar atau aktivitas yang dulunya menyenangkan kini terasa hambar, dan bangun dari tempat tidur pun terasa sangat berat. Ditambah lagi, penurunan kualitas tidur merupakan penyebab utama yang memperburuk kelelahan mental. Tidur adalah waktu penting bagi otak untuk membersihkan zat sisa yang menumpuk sepanjang hari, merapikan materi yang telah dipelajari, dan mengisi ulang energi. Namun, jika Anda tidak bisa tidur nyenyak karena stres, otak tidak mendapatkan waktu untuk pulih. Akhirnya, kondisi ini mengarah pada penurunan fungsi kognitif dan kesulitan mengendalikan emosi, yang memaksimalkan kecemasan menghadapi ujian dan menjebak seseorang dalam lingkaran setan penghindaran belajar. Penurunan fungsi otak juga termanifestasi sebagai rasa lelah fisik, yang sangat berkaitan erat dengan ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Aktivasi saraf simpatik yang berlebihan dan penurunan saraf parasimpatik memicu berbagai gejala fisik seperti peningkatan denyut jantung, gangguan pencernaan, dan penurunan imunitas. Ini bukan sekadar masalah kurangnya tekad, melainkan saatnya mendengarkan suara otak dan tubuh yang berteriak bahwa mereka tidak sanggup lagi bertahan.