Rasa sakit bagai terbakar di perut setiap malam akibat esofagitis refluks bukanlah kondisi yang asing lagi. Dunia medis modern mendiagnosis gangguan ini sebagai penyakit refluks gastroesofagus (GERD), yaitu kondisi ketika asam lambung atau isi lambung mengalami refluks ke esofagus sehingga mengiritasi mukosa esofagus dan menimbulkan peradangan.
Salah satu faktor penyebab paling mendasar adalah disfungsi sfingter esofagus bawah yang berada di antara lambung dan esofagus. Katup penutup ini umumnya terkatup rapat dan hanya membuka saat menelan makanan, tetapi jika mengendur karena berbagai alasan, asam lambung akan dengan mudah naik ke esofagus.
Lantas, mengapa sfingter ini bisa melemah? Pertama, makanan tertentu menjadi pemicu utamanya. Makanan berlemak tinggi memperlambat pencernaan dan meningkatkan tekanan di dalam lambung sehingga merelaksasi sfingter. Kafein, cokelat, mint, dan alkohol memiliki efek yang mengendurkan sfingter secara langsung. Makanan berbahan tepung terigu atau gandum yang disebutkan dalam Donguibogam pun tidak boleh diabaikan. Selama proses pengolahan, kadar serat makanan dalam tepung terigu berkurang, dan kandungan gluten memperpanjang proses pencernaan sehingga membebani lambung, memicu sekresi asam lambung berlebih, serta membuat isi lambung tertahan lebih lama hingga memperbesar peluang terjadinya refluks. Selain itu, sayuran tertentu seperti bawang bombai, bawang putih, dan tomat memicu sekresi asam lambung berlebih atau menimbulkan gas selama dicerna sehingga meningkatkan tekanan di dalam lambung.
Kedua, terjadinya refluks isi lambung ke esofagus tidak hanya dipengaruhi oleh hiperasiditas lambung, melainkan juga dipicu oleh penurunan fungsi pengosongan lambung. Apabila lambung tidak mampu mengosongkan makanan tepat waktu dan menyimpannya terlalu lama, tekanan di dalam lambung akan naik sehingga refluks mudah terjadi. Hal ini berkaitan erat dengan pola makan yang keliru seperti jam makan tidak teratur, makan porsi besar, dan kebiasaan makan larut malam.
Ketiga, faktor stres dan ketidakseimbangan sistem saraf otonom juga berperan penting. Beban stres dapat menurunkan keaktifan sistem saraf parasimpatis tubuh sehingga memperlemah kemampuan cerna dan membuat produksi asam lambung menjadi tidak teratur. Kondisi stres pun menjadikan saraf esofagus dan lambung kian peka, sehingga refluks ringan sekalipun sanggup memicu rasa sakit yang lebih hebat. Dengan kata lain, kendati tidak mengendurkan sfingter secara langsung, stres merupakan faktor krusial yang memperparah gejala esofagitis refluks dan menambah rasa tidak nyaman.
Terakhir, peningkatan tekanan intraabdomen turut berpengaruh. Mengenakan pakaian yang terlampau ketat, obesitas, dan kehamilan mampu meningkatkan tekanan pada rongga perut sehingga memicu refluks asam lambung. Konsep panas-lembap serta hambatan kelancaran aliran qi yang dibahas dalam Donguibogam sejalan dengan mekanisme medis modern seperti pengosongan lambung tertunda, kenaikan tekanan intragastrik, maupun kerusakan mukosa lambung akibat makanan yang merangsang. Pada akhirnya, runtuhnya keseimbangan tubuh yang membuatnya rentan terhadap rangsangan luar inilah yang berujung pada esofagitis refluks.