Membuka perpustakaan Donguibogam...
Membuka perpustakaan Donguibogam...

Konten ini adalah versi terjemahan yang cermat dari catatan medis tradisional Korea (Donguibogam) dan interpretasi modernnya. Disediakan hanya untuk tujuan informasi. Silakan berkonsultasi dengan profesional perawatan kesehatan sebelum membuat keputusan kesehatan apa pun.
Mengapa kita mengalami penderitaan ini?
"Mengapa gigi sering terasa ngilu meskipun sudah rajin menyikat gigi? Mungkinkah buah yang manis dan menyegarkan dikonsumsi sembarangan karena dianggap sebagai camilan sehat? Hari ini mari kita telusuri rahasia kesehatan gigi di balik godaan manis tersebut bersama-sama."

Sekarang, mari kita pelajari lebih rinci dari sudut pandang kedokteran modern mengenai alasan gigi menjadi ngilu dan sakit akibat buah. Di sinilah tersembunyi rahasia ilmiah yang belum diketahui pada era Donguibogam. Lapisan pelindung keras yang menyelimuti bagian terluar gigi disebut enamel gigi. Enamel gigi ini merupakan jaringan paling keras di tubuh manusia yang memainkan peran penting dalam melindungi gigi dari rangsangan luar dan bakteri. Namun, enamel gigi ini pun menjadi tidak berdaya di hadapan asam. Buah kaya akan berbagai asam organik seperti asam sitrat, asam malat, dan asam askorbat. Ketika komponen asam ini menyentuh permukaan gigi, mineral seperti kalsium dan asam fosfat penyusun enamel gigi akan larut, proses yang disebut demineralisasi. Ini mirip seperti batuan kapur yang larut oleh hujan asam. Terutama saat pH permukaan gigi turun di bawah 5,5, demineralisasi berlangsung drastis, dan buah sitrus seperti jeruk atau lemon memiliki pH sangat rendah sekitar 2,5 hingga 4,0 sehingga dapat menimbulkan kerusakan langsung pada gigi. Bila fenomena ini berlanjut, enamel gigi akan semakin menipis dan terkikis hingga menimbulkan cekungan pada permukaan gigi atau mengikis permukaan kunyah, yang disebut erosi gigi. Tidak berhenti di situ. Buah juga kaya akan gula yang memberikan rasa manis, seperti fruktosa, glukosa, dan sukrosa. Gula ini merupakan makanan favorit bagi bakteri kariogenik seperti Streptococcus mutans yang hidup di dalam rongga mulut kita. Bakteri kariogenik memecah gula ini dan menghasilkan asam laktat, yang juga merupakan zat asam kuat perusak gigi. Asam organik dari buah dan asam laktat yang dihasilkan bakteri kariogenik menyerang gigi secara ganda, sehingga secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Secara khusus, asam dan gula ini seharusnya dinetralkan dan dibilas oleh air liur, namun kebiasaan makan buah sedikit demi sedikit secara sering atau mendiamkannya lama di dalam rongga mulut tidak memberikan waktu yang cukup bagi daya pembersihan alami air liur, sehingga dapat mempercepat kerusakan gigi. Air liur bukan sekadar cairan yang membantu menelan makanan, melainkan pelindung alami gigi yang memiliki fungsi remineralisasi, yaitu menetralkan asam dan mengeraskan kembali gigi yang mengalami demineralisasi. Orang dengan produksi air liur yang sedikit tentu menjadi lebih rentan. Selain itu, meski bukan dari asupan buah secara langsung, penderita penyakit refluks gastroesofagus yang kerap mengalami refluks asam lambung dapat mengalami erosi enamel gigi saat asam lambung naik melewati esofagus hingga ke rongga mulut dan menyentuh gigi secara langsung. Dengan demikian, gigi kita terpapar pada berbagai serangan asam lebih dari yang diperkirakan. Jika gigi terus ngilu dan sakit meskipun sudah rajin menyikat gigi, diperlukan kebijaksanaan untuk memeriksa secara saksama tidak hanya kebiasaan menyikat gigi, tetapi juga makanan apa yang dikonsumsi dan bagaimana cara mengonsumsinya, serta apakah ada masalah lain di dalam tubuh seperti refluks asam lambung. Karena bagian-bagian tubuh kita saling terhubung. Mulai sekarang, mari bersama-sama membangun kebiasaan cerdas dengan memikirkan kesehatan gigi saat menikmati buah!

2 metode yang bisa Anda praktikkan sekarang juga

ζ© ε€ι£ζδΊΊι½
Jika jeruk mandarin dimakan terlalu banyak, hal itu akan merusak gigi manusia.
Kami menganalisis 'Donguibogam' karya Heo Jun, Warisan Ingatan Dunia UNESCO, menggunakan ilmu data modern dan AI. Tujuan kami adalah menafsirkan kembali kebijaksanaan pengobatan tradisional yang tersembunyi dalam teks-teks kuno agar sesuai dengan gaya hidup orang modern yang sibuk dan menyampaikannya dengan cara yang mudah dipahami.
Perhatian (Penafian): Konten ini bertujuan untuk memberikan informasi kesehatan berdasarkan literatur sejarah dan tidak dapat menggantikan diagnosis dan perawatan medis. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, silakan berkonsultasi dengan dokter spesialis.